Prakarsanews.com. Diantara seliweran ribuan orang, pengunjung di kawasan Pamarean Pembangunan NTT 2025, tampak sesosok bersahaja bergerak lincah penuh semangat, menawarkan balon jualannya ke orang tua yang datang bersama anak anak. Kekurangan fisik (tangan kanan Buntung) tidak membuatnya minder dan rendah diri .
Semangat dan gairahnya menggelitik rasa ingintahu saya, menyapanya dan mengajaknya bercakap seputar julan, semangat dan perjuangan hidupnya “Sudah 4 tahun hidup di Kota Kupang, mengandalkan jualan balon untuk biayai hidup dan sekolah anak anak. Kalo minder , malu dan gengsi, bagaimana membiayai hidup dan pendidikan anak di Kota ini?…” jawabnya retoris.
Yakob Fallo, pria berusia 55 tahun asal Kaineno, Amanuban Timur , Kabupaten TTS ini bersama insteri , Melciana Manu, harus mengambil keputusan besar dalam kehidupan rumah tangga mereka. “Demi pendidikan anak anak, pada empat tahun lalu kita putuskan Karena Anak pertama dapat beasiswa penuh kuliah di UNDANA, maka Saya mendampingi tiga anak berkuliah dan sekolah di Kota Kupang. Dan 2 anak yang masih SD bersama ibu mereka tetap di Kaineno. Seminggu sekali saya pulang kampung. Sejak domisili di Kota Kupang saya jualan balon. Beli di Toko lalu saya jual di tempat keramaian dimana ada anak anak. Saya lihat peluang saya ada di usaha ini dan terbukti sangat membantu. Kalo malu dan gengsi, siapa yang bisa biayai pendidikan dan hidup kami???” kisah Yakob.
Jiwa kewirausahaan Yakob menurun ke anak anak. “Sepulang kuliah dan sekolah, bila memungkinkan mereka juga berjualan balon. “
Saat ini Yang berkuliah dua anak, satu anak masih SMA. ” mereka harus berpendidikan lebih baik dari saya “.
Pengalaman “pahit” dirinya dengan pendidikan membuatnya sangat serius mendukung anak anaknya bersekolah dan berkuliah. ” Boleh jadi, saya siswa sekolah dasar tertua usia di sepanjang sejarah pendidikan dasar NTT. Diusia 16 tahun, saya baru mulai kelas 1 SD, ini karena Almarhum Ayah tidak mau menyekolahkan saya karena merasa malu anaknya yang bertangan buntung. Saat ayah meninggal, Bapak kecil mendorong mama menyekolahkan saya. Tamat SD di usia 22 tahun, ditolak ketika mendaftar ke SMP karena usia sudah lewat. Beruntung ada kebijkan seorang penilik, saya bisa diterima di SMPN Niki Niki. Setamat SMP lanjut ke SMA Negeri Soe TTS hingga tamat lalu Bertani, beternak dan menikah hingga harus mengambil keputusan besar terpisah domisili. Yakob dengan tiga putra putri (SMA dan Kuliah) di Kota Kupang dan sang Isteri dengan dua anak yang masih SD di Kaineno – TTS.
Tetap semangat pak Yakob. Bahagia dan sukses selalu ***(jO)
Posted in Sosok