Home
»
Uncategorized
»
Tuapanaf, desa tani yang merindukan Infrastruktur jalan dan pendampingan pertanian modern
Pada Rabu, 6 November 2024, Saya, Amzal bersama teman-teman saya Bryan Riwu, Adrian Agripa, dan Aditya Awaludin (Fakultas Ekonomi & Bisnis), dan dua orang teman dari Fakultas Tenhik Mesin (Idho dan Gerald) berangkat menuju desa Tuapanaf, lokasi kami menjalani program magang di LP2M Universitas Nusa Cendana (Undana). Ini kunjungan Kami ke 2.. Kunjungan pertama pada tanggal 1 Oktober 2024, untuk melakukan survey lokasi sedangkan kunjungan ke-2 Kali ini Kami mendapat tugas untuk mengidintifikasi dan mendata potensi Desa Tuapanaf.
Dari Kupang sekitar pukul 07.00 pagi, konvoi motor kami bergerak dari kampus lalu mejejaki aspal jalan Timor Raya yang mulus kearah timur; kurang lebih satu setengah jam perjalanan kami tiba di pertigaan desa Boking Kecamatan Takari, Kabupaten Kupang, konvoi kami berbelok kearah utara menjalani jalur menuju Lelogama. Sampai di sini sepajang kurang lebih 1 Km, kami masih menikmati mulusnya jalan beraspal hotmix. Selanjutnya kami berbelok ke jalur Kanan… disini mulailah kami harus ekstra hati hati karena jalan yang kami lalui ini merupakan jalan pengerasan dengan kondisi dominan kerikil sirtu lepas lepas….selama kurang lebih dua jam perjalanan kami tiba di desa Tuapanaf. sekitar pukul 9 pagi.
Kami langsung menuju kantor desa .berharap bisa bertemu Bapak Kepala Desa sehingga menyampaikan langsung tujuan kami kali ini. Ternyata bapak Kades sedang bertugas ke Kantor Bupati Kupang dan kami diterima Bapak Alexa lekioma. Dari beliau juga kami mendapat ceritera bahwa jalan yang kami lalui itu sesungguhnya Kawasan daerah aliran Sungai kering “Musim hujan tidak bisa dilewati, mayoritas warga “terperangkap”di desa “ kata pak Alexa prihatin. Saya jadi berpraduga, sangatlah mungkin infrastruktur jalan yang tidak memadai ini menjadi salah satu penyebab stagnannya pola pertanian Masyarakat yang tidak progresif menerima pola pertanian modern, akses pasar terbatas dan menjadi subsisten
Setelah menyampaikan tujuan dan tugas kami pada kunjungan yang kedua ini, bapak Alexa mengarahkan dan mendampingi kami ke lokasi pengambilan data di Dusun II.
Di lokasi, kami mengadakan sesi tanya jawab dengan masyarakat desa serta mengumpulkan data melalui pengisian kuesioner dari delapan responden.
Beberapa data yang kami temukan diantaranya Desa Tuapanaf, sebagian besar masyarakatnya hidup bergantung pada sektor perkebunan dan pertanian, juga memperoleh sedikit penghasilan tambahan dari peternakan. Terdapat kelompok tani bernama Tulfali yang, sayangnya, belum dikelola secara optimal, baik dalam aspek keuangan maupun manajemen. Kelompok tani ini lebih berfungsi sebagai formalitas agar masyarakat dapat menerima subsidi pupuk, sementara sebagian besar anggotanya bekerja secara individu tanpa adanya manajemen yang terstruktur.
Beberapa topik yang kami angkat dalam kuesioner meliputi:
1.Pengembangan pengetahuan kelompok tani tentang pertanian modern
2.Pengembangan pemasaran produk pertanian kelompok tani
3.Pengembangan manajemen kelompok tani
4.Pengembangan kapasitas anggota kelompok tani
Dari wawancara, kami menemukan bahwa mayoritas anggota kelompok tani masih mengandalkan metode pertanian tradisional dan kurang familiar dengan teknik pertanian modern. Dalam hal pemasaran, hanya sebagian kecil masyarakat yang menjual hasil kebun atau ternak mereka, sementara sebagian besar lainnya hanya menggunakan hasilnya untuk kebutuhan pribadi . Untukbeberapa kebutuhan tertentu, diantara kebrabat dekat, mereka penuhi dengan barter. Manajemen kelompok tani juga masih belum terstruktur dengan baik, karena kelompok ini dibentuk semata-mata untuk memenuhi persyaratan subsidi tanpa adanya pelatihan atau dukungan manajerial lebih lanjut.
Meski begitu, kami melihat antusiasme yang tinggi dari anggota kelompok tani untuk berkembang. Mereka sangat tertarik untuk menerima pembinaan dari lembaga pemerintah atau swasta, serta pelatihan terkait penggunaan alat pertanian modern dan pemasaran produk pertanian. Harapan mereka adalah dapat meningkatkan kemampuan mereka sehingga mampu mengelola usaha tani mereka secara mandiri di masa depan.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, kami merekomendasikan program pembinaan berkelanjutan dari pihak pemerintah atau lembaga swasta untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok tani di Desa Tuapanaf. Program ini sebaiknya mencakup pelatihan teknik pertanian modern, manajemen keuangan, dan strategi pemasaran produk, serta penyediaan alat-alat pertanian modern seperti mesin pemanen dan alat pemrosesan sederhana yang dapat mendukung peningkatan produktivitas. Dengan adanya pelatihan dan alat modern ini, petani dapat bekerja lebih efisien, meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi, serta mengelola kelompok tani secara mandiri dan terstruktur. Kami juga menyarankan agar kelompok tani Tulfali membangun kerjasama dengan mitra yang berpengalaman dalam manajemen pertanian untuk mengoptimalkan potensi sektor perkebunan dan pertanian desa secara efektif.
Melelahkan namun menyenangkan berada dan mencoba menjadi bagian dalam kenyataan dan keterbatasan Masyarakat ini. Kami bahkan disuguhi makan malam oleh keluarga Bapak Alexa. Terima kasih banyak Bapak Alexa dan seluruh warga tuapanaf yang sudah rla meluangkan waktu untuk berbincang bincang dengan kami . Akhirnya pada pukul 20.00 wita kami bergerak Kembali ke Kupang Sampai jumpa pada penugasan berikutnya . Salam (Amzal Xavier Messakh)
Posted in Uncategorized