Perempuan dan Nyala Petekan
Puisi Mezra E. Pellondou
Para perawan berlari patah-patah menembus kabut
Perempuan-perempuan dan para janda ikut berputar
mereka seperti sungai mengalir deras menuju tanah leluhur tanpa harus menunggu undangan
dari sunyi muara
Menit ditinggalkan semua detik-detiknya
setiap tiga bulan ritual itu selalu dimulai
Tinggalkan kota, tinggalkan rantau
Nyalakan Petekan di tanah leluhur
Di sana pak legen memantau dalam diam seperti guru kelas mengecek kehadiran pada daftar absen
Pada ranjang dan bilik yang tertutup dukun-dukun menunggu dengan sabar
Perawan dan janda bergilir satu-satu masuk ke bilik
Dua jari diletakan pada perut para perawan, janda dan semua perempuan
Keheningan yang panjang membawa sang dukun adat mampu membaca kehidupan semesta dalam rahim setiap perawan dan janda
Petekan, sebuah ritual tentang perempuan dan peradaban
Di tanah leluhur Tengger
para gadis dan janda tidak sedang belajar mengolok-olok cinta seperti halnya menertawakan dunia
Tidak!
Mereka semua sedang berumah pada Petekan
Menjaga martabat perempuan
Sekalipun nyala petekan membakar sangat
hingga merah membara
tanah leluhur
namun gadis-gadis perawan dan janda merindu terbakar di dalamnya
Sebab dengan cara itu
sungai-sungai yang kotor tidak akan pernah menggenangi mata kaum perempuan
Ranjang -ranjang dipastikan nyaman
Kekerasan disingkirkan dari nafas jalanan
Tidak ada bajingan
Tidak ada penjahat kelamin
Sebab perempuan dan perawan mampu mengusung kemurnian gubuk-gubuknya menjadi impian masa depan sehalus cahaya
Mahkota harus terjaga kepada yang berhak
Nyala Petekan ibarat tersengat listrik tegangan tinggi bagi mereka yang melanggar
Namun embun sejuk bagi yang setia dan taat
Kawasan Suku Tengger, Ngadas Juli 2025

Saat Candi dipugar
(Candi Jago)
Puisi Mezra E.Pellondou
Di pekarangan tubuhmu
batu Andesit batu bata dan mungkin sebatang kayu dipasak dan dimortir
Namun aku tidak sedang melihat material-material itu
tetapi aku melihat Raja Krtanegara sedang bersujud hormat pada ayahandanya raja Wisnuwarhana
Dibukanya kitab Negarakertagama maka siwa buddha
Hindu buddha
Kokoh kakinya
Tegar kekar tubuhnya
sejak 1268 masehi hingga generasi AI masa kini
Di pelataran tubuhmu saat ukir dan pahat tercipta relief dan ornamen
juga senyum hangat arsitek
kesibukan ahli konversi
ada juga kerutan dahi arkeolog pindahkan kacamata masa lalu ke masa depan
Tetapi aku tidak sedang melihat semua kesibukan itu tidak jug menghafal nama para ahli konversi
arsitek
arkeolog sejarawan seperti sedang menghafal kisah sejarah untuk ujian
Sebab sesungguhnya
aku sedang mendengar kisah Tantri Kamandaka dan Kunjarakarna
Ada juga Parthayajna
Arjunawiwaha dan Kalayawana
Semuanya membuatku semakin mencintai Indonesiaku yang juga menjadi mosaik terindah dari negeri para Dewata nan damai
Saat aku tiba di pelataran tubuhmu
dan bising mesin pengamplas batu sedang maraung
Aku tidak sedang mendengar bunyi mesin- mesin bising itu
Tidak juga sedang melihat para tukang bekerja
Sebab sesungguhnya
Aku sedang belajar
bagaimana memanggil kembali sejarah, arsitektur hingga makna dirimu dalam wujud aslimu
aku sungguh-sungguh merasakan nafasmu jatuh ke keningku
dan detak jantung tubuhmu masih terus kudengar hingga detik ini
Dan aku yakini akan keabadian semua pesan dalam kisahmu
Lokasi Candi Jago, Desa Tumpang ,Malang Jawa Timur , Juli 2025

Posted in Puisi