Prakarsanews.com.-Kota Kupang– Awal Oktober 2025, bertempat di sebuah cave di bilangan Kelurahan Oesapa Barat, beberapa warga Kota Kupang berbincang santai tentang Kenari Alor. Mereka bukan Warga Kabupaten Alor, tapi punya kepedulian tentang kenari Alor. Mereka datang dari latar belakang yang beragam dan bukan main main. Ir. Ever Y. Hosang, MSi, PHD, inisiator pertemuan adalah Peneliti Ahli Utama – Pertanian- dari Badan Riset dan Innovasi Nasional (BRIN), Mezra E. Pellondou, M.Hum, Guru dan Sastrawan senior NTT, Olvira Ballo, direktris CV. Beomopu Elba Jaya, produsen berbagai produk olahan dari produk pertanian lokal . Produk unggulannya ,Kenari panggang dengan nama branding Mama Anna, Ir. Ermi Koslulat, M.Si Peneliti Agro Industri BRIN, Ferdinand Bano, Penanggung jawab Program Kenari Alor World Vision Indonesia (WVI), Tri Yulianti Nepafa, Provincial Manager WVI . “Yaa semua bermula dari perhatian bahkan keprihatinan orang perorang, saya komunikasikan seorang ke seorang dan hari ini kita bisa bertemu dalam bincang bincang santai … kita sudah jadi satu komunitas Kenari Alor” tutur Ever Hosang membuka percakapan.

Dari Kiri ke Kanan :
Mezra Pellondou yang diberi kesempatan pertama mengatakan bahwa kecintaannya terhadap Kenari Alor sesungguhnya didorong rasa prihatin atas keberlanjutan kelangsungan hidup tanaman khas kaya nutrisi di NTT. “Seperti Lontar di Pulau Rote dan Sabu, Sorgum, Botok . Sagu di Maluku dan Papua…alih fungsi lahan jadi pemukiman dan kawasan industri sangat berpotensi punahkan tanaman khas kita dan suatu saat bukan mustahil kita di “perbudak” produk tanaman rekayasa genetik dengan segala efek buruknya. keprihatinan saya seperti Bahasa Bahasa Daerah Alor, Beberapa kali saya jadi bagian tim riset bahasa Alor, Ada bahasa yang penuturnya tinggal satu orang . Bila dia meninggal dunia maka hilang juga bahasa itu… Perlu langkah langkah nyata peningkatan kualitas literasi kenari bagi pemangku kepentingan sehingga terbuka ruang kolaborasi dalam rangka menjaga kelestarian tanaman dan keberlanjutan suply. Saya usulkan bikin festival Kenari Alor” kata Mezra.
Olvira Ballo mengatakan memiliki keprihatinan yang sama dengan Mezra dan menurutnya ini butuh kerja sunguh dan kolaboratif dari berbagai pihak. “Keprihatinan ini juga sebenarnja berkenaan dengan bagaimana ketersediaan suply dan ada perlindungan kelestarian pangan lokal. Kita tidak bisa sendiri. Dalam hal kontrol Kandungan Bahan Lokal dalam produk olahan misalnya cenderung bias karena amat sering kandungan bahan luar tetapi dibeli dalam negeri pada sebuah produk dinilai sebagai kandungan lokal… ini soal proteksi dan kedaulatan bahan pangan lokal. . ada rangkaian persoalan besar tertkait ini dan tidak bisa ditangani sendiri… Masyarakat, Petani, Pengepul, pengusaha, LSM dan Pemerintah Daerah harus berkolaborasi”
Menurut pengusaha yang rutin membeli berbagai bahan lokal dan mengembangkan berbagai produk turunan ini, Kenari Alor memiliki komersial kapasity yang tingi bila dibandingkan dengan Kenari dari Selayar.’kenari Alor hingga saat ini dipanen yang sudah matang dan jatuh ke tanah. Bukan di jolok” urai Elvira
Ferdinan Bano, penganggunjawab program Kenari Alor mengatakan Kenari bukan menjadi komuditas seksi dan andalan Kabuaten Alor, tetapi dari aspek identitas dan pasar, telah menjadi perhatian WVI sejak tahun 2022 “Sebenarnya komuditas andalan pemerintah Kab. Alor itu banyak, tetapi WVI memberi perhatian kepada Kenari Alor ini soal icon dan pasar internasional yang terbuka bagi kenari Alor sejak 2023” jelasnya.
Peneliti Pertanian Ahli Utama Ir. Ever Y. Hosang, M.si, PHD mengatakan Kenari Alor telah didaftarkan di kemenrian Pertanian pada tahun 2019 dengan nama Kenari Mutiara Alor beserta kerakteristiknya. Sertifikat pendaftaran telah diserahkan ke Bupati Alor.” ungkap Hosang.
Sertifikat tersebut, lanjut Hosang, harus ditindaklanjuti dengan mendaftarkan Identifikasi Geografis (IG) di Kementerian Hukum dan Ham “keuntungannya kalau di perdagangkan ke Luar negeri , Pembeli Luar Negeri akan melihat logo IG Kenari Alor, mereka tidak ragu membeli karena ini sudah jadi kesepakatan standart internasional” urai Hosang
Akhir percakapan disepakati usul festival Kenari Alor, akan dikomunikasikan WVI dengan Pemda Alor. “Saya punya pengalaman mengikuti festival Kopi Gayo di Aceh. Peserta diberi waktu beberapa hari tingal bersama petani kopi, mengikuti aktivitas pertanian mereka. Peserta dari beragam latar belakang. Media , Penulis, Pengusaha dll . Peserta kemudian mendiskusikan banyak hal tentang masa depan kopi gayo dan sekembali dari festival seluruh peserta menulis dan menyebarluaskan informasi, menggugah berbagi masukan dan bahkan kerjasama dan lain lain” urai mezra.
Tembus Pasar Eropa
Dari sejumlah publikasi yang dapat diseaching , Produsen produk pangan olahan bertaraf internasional, NTh Wonder melaporkan bahwa sejak tahun 2023, Kenari Alor telah tembus pasar eropa, namun perlu ada peningkatan kualitas pasca panen. Menurut laporan tersebut, Nth Wonder telah menggunakan kenari Alor dalam produk turunan , karena semua lemak dikandung Kenari Alor adalah lemak bermanfaat dan layak menggantikan susu sebagai sumber protein produk mereka seperti Ice Cream Gelato, Keju dan Cheese Cream serta keju mozarela.
Walau demikian hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Alor dan NGO terkait tbelum memiliki data pasti jumlah pohon kenari, jumlah produksi kenari di Kabupaten Alor. Petani Alor hingga saat ini mengumpulkan/ panen kenari dari Pohon Kenari “purba” yang tumbuh liar secara alami di hutan konservasi dan hutan desa.

Daniel Laure, Seorang Petani Kenari dari desa bunga kenari, kecamatan Alor Timur Laut, telah berhasil menanam 7000 anakan kenari di lahan miliknya dan menyemai kurang lebih 3000 anakan baru.
Pemerimtah Australia melalui Australian NGO Cooperation /ANCP dan World Vision Australia telah melaksanakan program Increasing the leverage of inclusif market accross Indonesia /INCLUTION sejak tahun 2022 dalam rangka pengembangan Padi, Hortikultura dan Kenari di 3 Provinsi, NTT, Selawesi Tengah, Malut dan NTT .
Program ini akan berakhir Juni 2027 mendatang. Semoga berbagi upaya selama ini, pada saat berakhir program INCLUTION, Pemerintah Daerah Kabupaten Alor dengan dukungan pemangku kepentingan dapat lebih sukses secara mandiri menjaga kelestarian hutan Kenari dan kelangsungan rantai pasok kenari di pasar Nasional dan Internasional. Interfensi kebijakan dan anggaran Pemerintah Daerah, misalnya melalui Dana Desa, memungkinkan pelestarian tanaman kenari yang tersebar di hutan 158 Desa di Kabupaten Alor* (Xavier)
Posted in Bisnis